L♥Ve'a

giVe oTherS iN oUr LifE

aPa siCh Terumbu Karang itu..???? April 22, 2010

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 11:05 am

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum cnidaria yang memiliki tentakel. Terumbu karang tersusun atas polip-polip yang hidup berkoloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahu

Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimentasi kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.

Dalam peristilahan ‘terumbu karang’, “karang” yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.

Ekosistem Terumbu Karang

Di dalam terumbu karang, koral adalah kerangka ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya, koral merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Baik buruknya kondisi suatu ekosistem terumbu karang dilihat dari komunitas karangnya. Kehadiran karang di terumbu akan diikuti oleh kehadiran ratusan biota lainnya (ikan, invertebrata, algae), sebaliknya hilangnya karang akan diikuti oleh perginya ratusan biota penghuni terumbu karang.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan efisiensi yang sangat tinggi. Lokasinya yang dekat pantai mengakibatkan pertemuan berbagai komponen biotik yang memberikan banyak masukan dan menghasilkan energi yang besar[1].

Disamping menghasilkan sedimen kapur pembentuk terumbu, karang juga meningkatkan kompleksitas dan produktivitas ekosistem. Karang kadangkala disebut juga sebagai karang batu (karang yang keras seperti batu) atau karang terumbu (karang yang menghasilkan kapur pembentuk terumbu). Hal ini untuk membedakannya dengan karang lunak. Jika istilah karang digunakan secara sendiri maka itu mengacu pada karang batu atau karang terumbu, bukan karang lunak. Karang mendapatkan makanan sebagian besar (>70%)dari algae zooxanthellae yang terdapat di dalam tubuhnya sedangkan sisanya ia dapat memakan plankton atau bahkan sedimen.

Habitat

Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.

Kondisi Optimum

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang[2].

Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis. Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, oksigen-oksigen hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya

Apakah polip itu?
Polip karang bentuknya seperti sebuah karung dan memiliki tangan-tangan yang dinamakan tentakel. Polip menyerap kalsium karbonat dari air laut untuk membangun rangka luar zat kapur yang dapat melindungi tubuh polip yang sangat lembut.

Bagaimanakah cara karang makan ?


Pada tentakel polip terdapat racun yang digunakan untuk menangkap berbagai jenis hewan dan tumbuhan laut yang sangat kecil atau disebut plankton sebagai makanan tambahannya. Tentakel karang terbuka pada malam hari dan digunakan untuk menangkap plankton yang melayang-layang terbawa arus. Karang batu mendapatkan makanan dari zooxanthellae.

Apakah zooxanthellae itu ?

Zooxanthellae adalah alga ber-sel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh karang batu. Zooxanthelae dan karang memiliki hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Zooxanthellae menyediakan makanan untuk polip karang melalui  proses memasak yang disebut fotosintesis, sedangkan polip karang menyediakan tempat tinggal yang aman dan terlindung untuk zooxanthellae

Bagaimana Karang berkembang biak?
Karang berkembang baik secara sexual dan asexual. Sexual reproduction terjadi saat sel telur dan sperma dikeluarkan oleh karang ke kolom perairan. Sel telur dan sperma dari jenis yang sama kemudian bergabung menghasilkan larva planula. Planula akan tumbuh sebagai polip karang. Asexual reproduction terjadi saat planula tumbuh menjadi polip karang kemudian membelah memperbanyak diri.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan karang untuk tumbuh?

Selama satu tahun rata-rata karang hanya dapat menghasilkan batu karang setinggi 1 cm saja. Jadi selama 100 tahun karang batu itu hanya tumbuh 100 cm. Kalau begitu, jika karang yang tingginya 5 meter dirusak, diperlukan 500 tahun agar kembali seperti semula. Bayangkan….betapa lamanya !!!

Kalau begitu, berapa umur sebuah Terumbu Karang ?

Terumbu karang termasuk ekosistem yang paling tua di bumi ini. Tahap pertama evolusi terumbu karang terjadi kira-kira 500 juta tahun yang lalu. Terumbu karang modern ada sejak lebih dari 50 juta tahun yang lalu. Waktu yang dibutuhkan terumbu karang untuk tumbuh adalah antara 5000 sampai 10.000 tahun . Jadi terumbu yang kita lihat sekarang ini telah berumur lebih dari 10.000!

 

Terumbu karang hancur April 21, 2010

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 11:46 am
 

Taman laut bunaken

Filed under: Dasar Laut,tErumbu kArang — loveabi @ 11:45 am
 

kLasifikasI tErumbu kArang… April 19, 2010

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 9:30 am

Klasifikasi Terumbu Karang

Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan daratan (land masses) terdapat empat klasifikasi terumbu karang atau yang sampai sekarang masih secara luas dipergunakan.

Terumbu atau Reef

Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup)di laut dangkal.

Karang atau Coral

Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal yang akrab dengan kita adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas. Karang terdiri atas banyak polip seperti bambu terdiri atas banyak ruas tersebut.

Karang terumbu

Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.

Terumbu karang

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton

Jenis-jenis terumbu karang

1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)

Terumbu karang tepi atau karang penerus adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal.

Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)

Secara umum, terumbu karang penghalang menyerupai terumbu karang tepi, hanya saja jenis ini hidup lebih jauh dari pinggir pantai. Terumbu karang ini terletak sekitar 0.5­2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus.

Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).

3. Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang cincin merupakan terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. Atol banyak ditemukan pada daerah tropis di Samudra Atlantik. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau­-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.

4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)

Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal.

Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)

Zonasi terumbu karang

Windward reef (terumbu yang menghadap angin)

Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh reef slope atau lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di reef slope, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu atau reef front yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.

Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu (patch reef), di bagian atas reef front terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga atau algal ridge. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu (reef flat) yang sangat dangkal.

Leeward reef (terumbu yang membelakangi angin)

Leeward merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.

 

MaNfaat tErumbu Karang..

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 9:27 am

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Menurut Cesar (1997) estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah:

  • sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,
  • pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
  • penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.Terumbu karang secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan bangunan karena mengandung kapur. Demikian pula pasir yang diambil dari ekosistem terumbu karang digunakan sebagai bahan campuran semen. Kerang atau tiram raksasa diambil cangkangnya untuk dijadikan bahan pembuat lantai bangunan.Terumbu karang menyediakan sumber pakan yang berlimpah bagi penduduk Indonesia. Banyak sekali ikan-ikan karang, hewan-hewan moluska, ekhinodermata dan krustasea ditangkap, dan dimakan karena mereka memiliki daging yang bergizi tinggi sebagai sumber pakan.

Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati

kEuntungan Lainnya adLah..

1. Proses kehidupan yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk tumbuh dan berkembang biak untuk membentuk seperti kondisi saat ini.

2. Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita.

3. Indonesia memiliki terumbu karang terluas didunia, dengan luas sekitar 600.000 Km persegi.

4. Sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi.

5. Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan dan penelitian.

6. Terumbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam punah serti kima raksasa dan penyu laut.

7. Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove

8. Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 – 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun.

9. Keindahan terumbu karang sangat potensial untk wisata bahari. Masyarakat disekitar terumbu karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatn mereka bertambah

10. Terumbu karang potensi masa depan untuk sumber lapangan kerja bagi rakyat Indonesia

 

CoraL bLEaching iN Bali

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 9:23 am

Dampak pemanasan global semakin nyata. Periode April-Juni yang setiap tahunnya cenderung lebih panas dibanding bulan-bulan lainnya, telah mengakibatkan terjadinya kembali pemutihan karang di Bali. Sebagai respon atas perisitiwa tersebut, yayasan bekerjasama dengan kelompok nelayan lokal, dive operator/center-resort mengadakan serangkaian pemantauan. “Terumbu karang di Bali mengalami pemutihan, diperlukan upaya bersama segera dengan berbagai pihak untuk mengelola dampaknya,”  demikian himbauan Naneng Setiasih, pimpinan yayasan Reef Check Indonesia.

Setelah mendapat laporan dari nelayan di daerah Tejakula, yayasan bersama para partner melakukan penelitian cepat (rapid assessment) di area antara Pemuteran dan Amed (sekitar 120 km panjang garis pantai). Dari penelitian cepat tersebut, ditemukan bahwa pemutihan karang keras paling parah di Amed.  Pemutihan ini mencakup sekitar 40% dari jumlah tutupan karang keras yang ada.  Sementara tingkat pemutihan paling rendah ditemukan di Tulamben: sekitar 10% dari total tutupan karang keras.  Adapun jenis-jenis karang keras yang ditemukan memutih adalah: Acropora Tabulate and branching, Pocillopora sp,  Stylopora, Montipora (submasive and encrusting), Porites, Pavona, Hydnopora, Favites, Galaxea, Fungiid (Fungia,Ctenactis and Sandhalolita), Astreopora, Symphillia, Platygyra, Diploastrea,  Heliopora, Lobophylia, Millepora, Goniastrea, dan Pectinia. Sementara jenis non kanrang keras yang terkena adalah karan lunak (Sarchophyton dan Sinularia), Anemon, dan zooanthid.

Jenis-jenis karang keras yang rentan terhadap pemutihan, seperti Seriotopora, Poccilopora, Stylophora, Pavona mengalami pemutihan yang parah, sementara jenis-jenis yang lebih kuat (resistan) mengalami pemutihan sebagian atau tidak memutih, seperti Porites.

Adapun suhu air laut pada saat penyelaman: 29-30oC.

Pemutihan karang terakhir yang tercatat di Bali terjadi pada tahun 2005, si terumbu karang sisi kiri dan kanan bandara Ngurah Rai.  Saat itu ditemukan sampai 75% karang keras memutih (semua karang Montipora “plate” memutih).  Pemantauan setahun kemudian menemukan hilangnya karang lunak.

Pemutihan terbesar di Bali terjadi pada tahun 1997-1998, bersamaan dengan pemutihan masal global.  Di Indonesia saat itu pemutihan karang yang mencapai sekitar 50% atau lebih dari tutupan karang tercatat terjadi di Taman Nasional Bali Barat (mencapai hingga 100%), Karimun Jawa, Taman Nasional Pulau Seribu, Kepulauan Gili, Lombok (mencapai hingga 90%) dan Kalimatan Timur.  Tingkat kematian dari karang yang terkena pemutihan tersebut di Karimun Jawa mencapai 50-60% (irdez et all, 1998).

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang ini akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia.  Kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya  US$2,5-6 milyar dalam 19 tahun (WWF, 2004). Di Asia Tenggara sendiri, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun kedepan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai US$ 38,3 miliar (Cesar et all, 2003).

PENANGANAN MENDESAK

Dengan kecendrungan suhu bumi yang terus menaik karena pemanasan global, kejadian pemutihan terumbu karang skala luas diperkirakan akan terjadi semakin sering dengan intensitas yang meningkat. Apabila kenaikan suhu ini dibandingkan dengan batas toleransi karang terhadap pemutihan dalam 100 tahun terakhir, maka pada tahun 2020, diprediksikan bahwa pemutihan terumbu karang akan terjadi setiap tahun (Hoegh-Guldberg, 1999).

Di Bali, terumbu karang merupakan aset ekonomi yang sangat vital dari sisii perikanan dan atraksi wisata.   Sebuah penelitian di Taman Nasional Bali Barat menunjukan penurunan keinginan membayar dari setiap  wisawatan sebesar Rp. 16,290.00   untuk setiap kehilangan  10 % tutupan mahluk hidup.  Hal ini berarti secara hipotesis, penurunan tutupan mahluk hidup dari tahun 1996 ke 1998 karena pemutihan karang dan hama Acanthaster mengakibatkan kerugaian sebesar Rp. 692,092,200.00 (Setiasih, 2000).  Berkurangnya tutupan karang keras diatas 10% juga dapat mengurangi kelimpahan jenis ikan sampai 62% (Wilson dkk, 2006).

“Pemanasan global tidak bisa kita hindari, namun kita dapat bersama-sama melakukan sesuatu untuk mengurangi dampaknya pada alam dan manusia,”  ungkap Naneng lebih lanjut.

Hal pertama yang perlu dilakukan di tingkat lokal adalah dengan menjaga terumbu karang sebaik-baiknya dengan mengurangi tekanan-tekanan yang lain.  Terumbu karang yang mengalami tekanan yang rendah, akan mempunyai energi lebih dalam menghadapi pemutihan karang.   Peran serta masyarakat luas sangat diperlukan di sini.  Mulai dari pengaturan pengelolaan perikanan, sampai keterlibatan dunia pariwisata dalam menjaga kawasan terumbu karang. Pengelolaan terumbu karang juga harus memperhatikan zonasi, untuk memastikan adanya daerah sumber “induk-induk” karang, yang akan mensuply daerah-daerah yang mengalami kematian dan kerusakan yang parah.  Intervensi-intervensi teknis juga dapat dipertimbangkan untuk membantu mempercepat pemulihan habitat karang yang rusak.

Telah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat, seperti melalui pembentukan-pembentukan daerah lingkungan laut secara partisipatif.  Bali juga mempunyai banyak pelaku pariwisata yang ramah lingkungan dan secara rutin melakukan aktifitas konservasi untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang, misalnya saja pengangkatan bintang berduri (pemangsa karang), membuat dan mempergunakan pelampung (tidak buang jangkar), serta aktifitas clean up rutin.

Yang masih dirasakan kurang adalah upaya untuk menjalin upaya-upaya tersebut di dalam jejaring yang aktif dan berkesinambungan.  Juga upaya penelitian yang melibatkan daya adaptasi (resistance) dan daya lenting (resilience) terumbu karang dalam membangun pengelolaan suatu kawasan terumbu karang.

Dalam waktu dekat ini yang bersama bisa kita lakukan adalah:

  1. Awasi daerah-daerah lindungan dengan sebaik-baiknya untuk mengurangi pelanggaran-pelanggaran.
  2. Tidak menangkap ikan dengan cara yang merusak (bom dan racun)
  3. Sebisa mungkin, kurangi konsumsi ikan-ikan herbivor (karang mati yang ditumbuhi alga, perlu “dibersihkan” oleh ikan-ikan tersebut agar dapat tumbuh karang baru).  Juga kurangi memberi makan ikan-ikan herbivor di area-area yang terkena pemutihan.
  4. Dalam melakukan penyelaman, pastikan setiap penyelam mempunyai kemampuan selam yang baik, kurangi kontak dengan terumbu karang.
  5. Bantu kami dalam memantau perkembangan bleaching dengan mengisi form pemantauan pemutihan karang.  Form dapat diminta melalui: jensi@reefcheck.org atau jensi@reefcheck.or.id

Pihak pemerintah (DKP propinsi Bali) akan membantu konsolidasi dan sosialisasi permasalahan ini.  Hal ini akan dilakukan melalui media, dan kelompok-kelompok masyarakat pengawas.  DKP propinsi juga akan mendukung upaya penelitian serta pemulihan (recovery) terumbu karang melalui program pemerintah.

Selain itu, pihak Gahawisri akan secara aktif mensosialisasikan isu pemanasan global ini kepada jaringannya, untuk membantu mengurangi tekanan langsung terhadap terumbu karang dengan lebih mengaktfikan wisata ramah lingkungan, dan pelibatan industri wisata untuk mengambil data pemutihan karang.

Pihak LSM dan universitas di Bali, diharapkan melalui konsorsium Mitra Bahari, akan membangun kerja sama dalam membentuk tim peneliti.  Diharapkan dari penelitian ini akan didapatkan informasi yang lebih detail tentang bagaimana mengelola terumbu karang di bawah ancaman pemanasan global.  Sejauh ini, sudah didapatkan komitmen dari WCS (World Conservation Society)  dan YBN (Yayasan Bahtera Nusantara).

 

CORAL BLEACHING April 16, 2010

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 6:38 am

Fungsi Dan Manfaat Terumbu Karang

Setelah mengenali, maka cintai dan peliharalah terumbu karang, karena terumbu karang mempunyai fungsi dan manfaat serta arti yang amat penting bagi kehidupan manusia baik segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan pariwisata dan manfaat serta terumbu karang adalah:

1. Proses kehidupan yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk tumbuh dan berkembang biak untuk membentuk seperti kondisi saat ini.

2. Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita.

3. Indonesia memiliki terumbu karang terluas didunia, dengan luas sekitar 600.000 Km persegi.

4. Sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi.

5. Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan dan penelitian.

6. Terumbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam punah serti kima raksasa dan penyu laut.

7. Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove

8. Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 – 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun.

9. Keindahan terumbu karang sangat potensial untk wisata bahari. Masyarakat disekitar terumbu karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatn mereka bertambah

10. Terumbu karang potensi masa depan untuk sumber lapangan kerja bagi rakyat Indonesia