L♥Ve'a

giVe oTherS iN oUr LifE

all aBout pEnyu April 22, 2010

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:19 am

Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 – 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 – 73 hari.

Masa Bertelur

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 – 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.

Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.

Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:

  • Pantai selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS)
  • pantai selatan Bali (di dekat Kuta)
  • Kalimantan Tengah (Sungai Cabang FNPF)
  • pantai selatan Lombok
  • Jawa Timur (Alas Purwo)
  • Bengkulu (Retak ilir Muko-muko)

Jenis Penyu

Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar bisa mencapai panjang 2,75 meter

Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu

Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp’s ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.

Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 – 900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50 kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.

Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.

Asal Penyu

Pantai tempat pendaratan penyu di Bali sudah jauh berkurang, hanya tersisa sedikit di beberapa tempat seperti Pantai Perancak dan Penyaringan. Sebagian besar pantai-pantai Bali yang semula menjadi tempat pendaratan penyu sudah berubah menjadi kawasan wisata yang tidak memungkinkan lagi bagi penyu untuk mendarat.

Untuk memenuhi kebutuhan penyu yang tinggi di Bali, para penangkap penyu berlayar sampai Jawa, Sulawesi, Flores dan Irian Jaya untuk mencari penyu. Alasan inilah yang menyebabkan kenapa perdagangan penyu di Bali menjadi ancaman serius bagi kelestarian penyu di alam. Perdagangan penyu di Bali telah mendorong penangkapan besar-besaran penyu di luar Bali.

Penangkapan penyu ini dimodali oleh Wewe dan pemilik penampungan penyu di Tanjung Benoa. Wewe mempunyai sekitar 10 kapal, sedangkan Rasta diperkirakan mempunya 4-5 kapal.

Seorang anggota ProFauna Indonesia yang berkunjung ke Pulau Kukusan, Flores melaporkan bahwa di pulau tersebut ada tempat penampungan sementara penyu milik Haji Mustajid. Setelah terkumpul banyak, penyu-penyu tersebut nantinya akan dikirim ke Bali. Setiap kali pengiriman jumlahnya berkisar antara 50-100 ekor dengan harga Rp 60.000-80.000 per ekor. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan dengan harga penyu di Bali yang sekitar Rp 500.000-1 juta per ekornya.

Florian Weiss, seorang sukarelawan ProFauna Indonesia berkebangsaan Jerman, pada bulan Januari-Februari 2001 melakukan penelitian tentang kehidupan nelayan di Pulau Tukangbesi, Sulawesi Tenggara, melaporkan bahwa disana para nelayan juga menangkap penyu untuk dikirim ke Bali. Sebelumnya para nelayan tersebut menangkap penyu hanya untuk kepentingan tradisional saja, namun sejak mereka tahu bahwa Bali membutuhkan penyu yang banyak dengan harga yang mahal, maka penangkapan penyu dilakukan lebih intensif untuk dikirim ke Bali.

Advertisements
 

Nasib Penyu Hijau di Indonesia … April 19, 2010

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:59 am

Segitiga Karang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste menjadi rumah bagi 6 dari 7 jenis penyu yang ada di dunia. Penyu-penyu tersebut adalah penyu hijau atau dikenal dengan nama green turtle (Chelonia mydas), penyu sisik atau dikenal dengan nama Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), penyu lekang atau dikenal dengan nama Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing atau dikenal dengan nama Leatherback turtle (Dermochelys olivacea), penyu pipih atau dikenal dengan nama Flatback turtle (Natator depressus) dan penyu tempayan atau dikenal dengan nama Loggerhead turtle (Caretta caretta). Penyu belimbing adalah penyu yang di lindungi dan masuk dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1.Penyu hijau adalah salah satu jenis penyu laut yang umum dan jumlahnya lebih banyak dibanding beberapa penyu lainnya. Meskipun jumlahnya lebih banyak dibanding penyu lainnya, populasi penyu hijau tiap tahun berkurang oleh penangkapan dan pembunuhan baik sengaja maupun tidak sengaja yang terperangkap oleh jaring.

Penyu hijau hidup di lautan tropis dan subtropis di Samudra Atlantik dan Pasifik. Penyu hijau memiliki leher yang pendek dan sirip yang menyerupai lengan yang beradaptasi untuk berenang. Paruhnya pendek dan tidak melengkung. Beratnya mencapai 315 kg, yang terbesar mencapai 395 kg. Penyu remaja menghabiskan waktunya di laut dangkal. Penyu akan kembali ke pantai saat bertelur. Penyu ini akan bertelur setiap tiga tahun sekali. Keberadaan penyu hijau sangat jarang sehingga dilindungi oleh setiap Negara dan ditetapkan sebagai hewan dilindungi oleh IUCN dan CITIES. Namun dibeberapa Negara seperti di Indonesia, penyu hijau masih diburu dan diambil telurnya untuk dimakan. Gerakannya yang unik dan khas seakan menggambarkan kelihayan perenang dasar laut yang mempesona. Ini mungkin bisa menggambarkan betapa unik dan indah melihat penyu laut berenang bebas di bawah permukaan laut. Dengan menggerakkan kedua kaki renang depan untuk mengontrol gerakan dan kecepatan, hewan ini bergerak gesit di dasar laut. Juga dengan bantuan kaki belakang sebagai penyeimbang seakan memberikan kesempurnaan gaya renang yang memukau.

Penyu laut khususnya penyu hijau adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivore) namun sesekali dapat menelan beberapa hewan kecil. Hewan ini sering di laporkan beruaya di sekitar padang lamun (seagrass) untuk mencari makan, dan kadang di temukan memakan macroalga di sekitar padang alga. Pada padang lamun hewan ini lebih menyukai beberapa jenis lamun kecil dan lunak seperti (Thalassia testudinum, Halodule uninervis, Halophila ovalis, and H. ovata). Pada padang alga, hewan ini menyukai (Sargassum illiafolium and Chaclomorpha aerea). Pernah di laporkan pula bahwa penyu hijau memakan beberapa invertebrate yang umumnya melekat pada daun lamun dan alga.

Penyu laut adalah adalah hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah permukaan laut. Induk betina dari hewan ini hanya sesekali kedaratan untuk meletakkan telut-telurnya di darat pada substrate berpasir yang jauh dari pemukiman penduduk. Untuk penyu hijau, seekor Induk betina dapat melepaskan telur-telurnya sebanyak 60 – 150 butir, dan secara alami tanpa adanya perburuan oleh manusia, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai kelaut kembali untuk berenang bebas untuk tumbuh dewasa. Dari 1.000 anak penyu (tukik) yang lahir, rata-rata hanya satu yang bisa hidup sampai dewasa. Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % dan belum ditambah dengan adanya beberapa predator-predator lain saat mulai menetas dan saat kembali ke laut untuk berenang. Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan, Coenobita sp.), Burung dan tikus. Dilaut, predator utama hewan ini antara lain ikan-ikan besar yang beruaya di lingkungan perairan pantai. Sangat kecilnya presentase tersebut lebih diperparah lagi dengan penjarahan oleh manusia yang mengambil telur-telur tersebut segera setelah induk-induk dari penyu tadi bertelur.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telur penyu dijual secara bebas dengan harga yang bervariasi sesuai dengan lokasi. Selama perjalanan Tim eksplorasi terumbu karang, saat berada di Pulau Semujur penduduk menawarkan telur penyu dengan harga Rp 500,-/butir. Saat berada di Tanjung Berikat Desa Tanjung Beriga Kabupaten Bangka Tengah, telur penyu di jual Rp 1.000,-/butir dan di pasar ikan Sungailiat Kabupaten Bangka di jual dengan harga Rp 2.000,-/butir. Di pasar Tanjung Pandan Pulau Belitung, telur penyu dijual dengan harga Rp 2.500/butir. Sangat di sayangkan memang, walaupun beberapa daerah pengeraman alami telur penyu jauh dari pemukiman penduduk, namun tetap tidak luput dari perburuan illegal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Secara global, sebanyak ratusan ribu penyu tertangkap setiap tahunnya di mata kail dan jaring dari kegiatan penangkapan ikan. Sedangkan pantai peteluran juga mengalami tekanan sebagai dampak pembangunan industri yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, aktivitas manusia di pantai, serta pemanasan global. Kondisi ini semakin menurunkan populasi penyu laut di lingkungan asli mereka. Keunikannya tidak akan tampak lagi, saat banyak dari penduduk pantai merusak dan menjarah telur-telur meraka, memburuh induk-induk meraka dan merusak rumah-rumah mereka.

Dewasa ini memang sangat mendesak adanya upaya manajeman perlindungan lingkungan asli hewan ini yang tidak hanya berlaku pada suatu kawasan perteluran hewan ini namun juga di beberapa daerah yang merupakan jalur migrasi hewan ini dalam mencari makan. Upaya konservasi dan perlindungan harusnya bukan hanya di atas kertas saja namun lebih kearah praktek pemeliharaan yang rill guna menjaga kelangsungan hidup dan lingkungan alami hewan ini. Tentunya upaya ini akan bermuara ke realitas perlindungan lingkungan yang rill dan pemeliharaan biodiversity laut agar anak cucu kita masih dapat menyaksikan hewan ini berenang lincah di lautan bebas.

 

Apa saja Tindakan yang tElah dilakukan..????

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:58 am

Tindakan Pemerintah

Walaupun agak terlambat, dalam satu tahun terakhir ini pemerintah, khususnya Unit Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali dan kepolisian setempat cukup gencar memerangi perdagangan penyu di Bali. ProFauna Indonesia dan Unit KSDA Bali secara intensif melakukan koordinasi untuk menegakan hukum perlindungan penyu.

Dalam beberapa kali dialog dengan ProFauna Indonesia, Gubernur Bali melalui wakilnya I Gusti Bagus Alit Putra, menyatakan mendukung tindakan tegas yang diambil Kepala Kepolisian daerah (KaPolda) Bali untuk menangkap orang yang terbukti melakukan perdagangan penyu. Dukungan yang sama juga disampaikan oleh Kantor Kementrian Lingkungan Hidup dan Direktorat Jenderal Pelestarian dan Konservasi Alam (PKA) Departemen Kehutanan.

Pada tanggal 4 Oktober 2000 petugas KSDA, TNI AL dan kepolisian menangkap Kapal Motor (KM) Bintang Emas bermuatan puluhan ekor penyu yang dinahkodai oleh Maliani. Kapal tersebut terbukti membawa 90 ekor penyu hijau yang ditangkap dari perairan Sulawesi. Maliani mengaku bahwa kapal tersebut adalah milik Wewe yang tinggal di Tanjung Benoa.

Kemudian 1 ekor penyu disita oleh petugas sebagai barang bukti, sedangkan sisanya dititipkan ke Wewe. Ketika keesokan harinya (tanggal 5 Oktober 2000) petugas KSDA datang ke Tanjung Benoa untuk memeriksa barang bukti (penyu) ternyata penyu-penyu tersebut telah dijual oleh Wewe. Penyu-penyu tersebut dijual seharga Rp 125.000-320.000 per ekor. Dari hasil penjualan penyu sitaan tersebut, didapatkan uang sebesar Rp 17.416.000.

Kasus ini kemudian dibawa ke Pengadilan Negeri Denpasar dengan terdakwa Maliani dan Wewe. Setelah melalui persidangan yang sering ditunda, akhirnya pada tanggal 12 April 2001 terdakwa Maliani divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara 8 bulan dan denda Rp 1 juta. Sementara itu Wewe juga divonis bersalah pada tanggal 9 Mei 2001 dan dijatuhi hukuman penjara 1 tahun dengan denda 3 juta. Wewe dan Maliani secara nyata terbukti telah melanggar UU No 5 tahun 1990 dan PP no 7 tahun 1999.

Meskipun telah divonis bersalah, Wewe masih bebas berkeliaran, tidak langsung masuk Penjara. Sementara itu Maliani, anak buah Wewe, telah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan. Sehari setelah divonis bersalah, Wewe langsung mengajukan banding. Alasan banding inilah yang dipakai oleh jaksa untuk tidak menahan Wewe. Seharusnya setelah divonis Wewe langsung ditahan, agar dia tidak mempunyai kesemapatan untuk mempengaruhi pedagang-pedagang yang lain. Walaupun sudah ada surat perintah dari Pengadilan Tinggi no PT/81/Pen.Pid/2001 untuk segera menahan Wewe , namun sampai laporan ini selesai dibuat (Januari 2003) Wewe masih bebas dan perdagangan penyupun masih berlangsung.

Sejak disidangkannya kasus perdagangan penyu yang melibatkan Maliani dan Wewe, perdagangan penyu cenderung menurun. Pedagang yang lain sepertinya masih menunggu dan melihat (wait and see) apakah Wewe benar-benar akan dihukum berat atau hanya dijatuhi hukuman ringan.

Dukungan Internasional dan Ancaman Boikot Pariwisata

Perdagangan penyu di Bali menjadi perhatian serius dari dunia internasional. Bukan saja karena Bali menjadi pusat perdagangan penyu di Indonesia, namun juga karena sebagai tujuan utama wisata di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir ini ProFauna Indonesia bersama Humane Society International, aktif melakukan kampanye untuk melestarikan penyu. Kampanye internasional perlindungan penyu Indonesia yang dilakukan organisasi lain seperti WSPA dan PADI, juga terus dilakukan.

Dalam lima bulan terakhirini, KSBK menerima lebih dari 200 surat dari lembaga-lembaga internasional yang menaruh perhatian terhadap perdagangan penyu di Bali. Surat-surat tersebut oleh ProFauna kemudian diteruskan ke pemerintah, dengan harapan pemerintah akan lebih serius dalam menangani isu perdagangan penyu di Bali. Ribuan email dan surat dari individu-individu dari seluruh dunia, seperti Inggris, Australia, Amerika, Jerman, Swiss, India, Malaysia, Belanda, dan sebagainya juga terus mengalir ke kantor ProFauna Indonesia.

Sebagian besar ribuan surat tersebut mengutuk keras praktek perdagangan dan pembantaian penyu di Bali. Mereka juga menuntut agar pedagang besar penyu seperti Wewe dapat ditindak tegas sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Banyak diantara mereka yang mengancam melakukan kampanye boikot pariwisata Bali jika pemerintah tidak serius dalam menghentikan perdagangan penyu di Bali. Ancaman ini terlihat serius, karena banyak diantara mereka adalah para pemilik biro-biro wisata di luar negeri dan instruktur selam, yang mempunyai akses untuk mempengaruhi calon wisatawan yang hendak berkunjung ke Indonesia. Pihak Kementrian Lingkungan Hidup juga membenarkan bahwa mereka juga banyak menerima surat tersebut.

Badan Lingkungan (UNEP) PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dalam suratnya ke ProFauna Indonesia untuk diteruskan ke pemerintah Indonesia, menyerukan agar pemerintah Indonesia bertindak tegas dalam menegakan hukum perlindungan penyu.

Sebagian besar wisatawan berkunjung ke Bali adalah untuk menikmati keindahan alam dan budayanya, bukan untuk melihat perdagangan penyu yang menyedihkan. Kegiatan-kegiatan alam seperti selancar dan menyelam adalah salah satu kegiatan favorit bagi wisatawan asing. Dan bagi penyelam, penyu adalah salah satu daya tarik bagi mereka untuk menyelam. Penangkapan penyu di alam untuk diperdagangkan hanya akan mempercepat laju kepunahan penyu.

Perdagangan penyu akan memperburuk citra Bali di mata internasional, sementara konstribusi perdagangan penyu bagi negara sangatlah kecil. Bagaimanapun juga Bali telah terkenal di seluruh dunia sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, sehingga peristiwa-peristiwa buruk seperti perdagangan penyu akan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

 

Penyitaan Penyu-penyu di Gianyar

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:56 am

Sementara itu pada tanggal 29 Mei 2001 Kepolisian Resort Gianyar, Bali berhasil menggagalkan usaha pengiriman 25 ekor penyu asal Tanjung Benoa. Semula penyu tersebut akan dikirim ke Ketewel Gianyar dengan menggunakan mobil bernomer DK 9484 DY, namun tanpa sengaja tertangkap polisi ketika polisi sedang melakukan operasi razia kendaraan bermotor. Penyu-penyu yang kesemuanya jenis penyu hijau tersebut adalah milik Rastha, salah seorang pemilik penampungan penyu di Tanjung Benoa.

Penyitaan 25 ekor penyu tersebut memicu protes dari Bendesa Adat Tanjung Benoa. Belasan orang datang ke kantor POLRES Gianyar untuk meminta agar penyu-penyu tersebut diserahkan ke mereka dengan alasan bahwa penyu-penyu tersebut akan digunakan untuk kepentingan adat. Pihak POLRES Gianyar yang juga didukung oleh ProFauna, menolak mengabulkan permintaan tersebut. Pihak kepolisian telah berjanji akan tetap memproses kasus pengiriman penyu illegal tersebut sampai tuntas.

Setelah diambil satu ekor sebagai barang bukti, penyu-penyu yang lain selanjutnya dilepas di Pantai Lebih Gianyar. Pelepasan penyu ini melibatkan Kepolisian Resort Giannyar, petugas KSDA, Bendesa Adat Gianyar dan didukung sepenuhnya oleh ProFauna Indonesia.

 

Penyu uNtuk kepentingan komersil

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:54 am

Harga seekor penyu adalah Rp 500.000-1 juta, tergantung ukurannya. Jika sudah dalam bentuk daging harganya adalah Rp 25.000 per kilogram. Sedangkan kulitnya yang sudah kering biasanya dijual seharga Rp 80.000/kg. Daging penyu masih diperjualbelikan dengan bebas, misalnya seperti yang terjadi di Pasar Kumbasari Badung dan Pasar Bualu. Para penjual sate penyu juga masih bertebaran di Tanjung Benoa, Badung dan Denpasar.

Fakta menunjukan bahwa sebagian besar perdagangan penyu adalah untuk kepentingan komersil, bukan untuk kepentingan adat atau agama. Apalagi sejumlah Pedanda (Pendeta umat Hindu), misalnya Ida Ratu Pedanda Ngurah Kaleran mengatakan bahwa tidak ada keharusan memakai daging penyu dalam upacara adat atau agama, karena pada prinsipnya Agama Hindu mengajarkan welas asih dan tidak saling menyakiti.

Alasan pemanfaatan penyu untuk upacara adat dan agama adalah alasan yang sama sekali tidak mendasar, dan hanya merupakan alat pembenaran dari perdagangan penyu tersebut. Fakta membuktikan bahwa penyu-penyu tersebut dimanfaatkan untuk sate penyu yang kemudian dijual bebas setiap hari di Benoa, Denpasar, Serangan dan Gianyar. Beberapa Pedanda mengatakan, seandainyapun dalam upacara harus menggunakan penyu maka jumlah penyu yang dibutuhkan tidak akan lebih dari 300 ekor dalam satu tahun.

Konsumen Sate Penyu

Perdagangan sate penyu banyak terkosentrasi di Denpasar Selatan dan Kabupaten Badung, serta sedikit di Gianyar. Sebagian besar konsumennya adalah penduduk domestik, bukan wisatawan asing. Namun ada juga wisatawan asing yang terlihat membeli sate penyu, biasanya mereka adalah wisatawan asal Taiwan. Harga sate penyu tersebut rata-rata adalah Rp 8000 per porsi (berisi10 tusuk sate).

Selama bulan Februari-Mei 2001, jumlah penyu yang ada di penampungan tidak terlalu banyak. Penampungan yang paling banyak menyimpan penyu adalah penampungan milik Hasan, sedangkan yang paling sedikit adalah milik Daang. Penampungan milik Rasta diduga juga menyimpan banyak penyu, hanya saja tempatnya sangat tertutup sehingga sulit untuk dipantau. Jika semuanya dibuat rata-rata maka setiap bulannya rata-rata ada sekitar 199 ekor penyu di keenam tempat penampungan penyu tersebut. ProFauna Indonesia yakin bahwa jumlah penyu yang ada di penampungan jauh lebih besar daripada jumlah yang dapat terpantau.

Jumlah kapal penangkap penyu yang masuk ke Benoa yang terpantau oleh ProFauna Indonesia juga tidak terlalu banyak. Tercatat hanya ada 4 kali kapal bermuatan penyu yang masuk ke Tanjung Benoa selama bulan Februari-Mei 2001 dengan jumlah total muatan 490 ekor penyu. Kapal-kapal ini biasanya berlabuh di Tanjung Benoa pada pagi-pagi sekali atau malam hari. ProFauna percaya bahwa jumlah kapal yang masuk jauh lebih besar dari yang terlihat, namun cukup sulit memantaunya di malam hari.

Jenis penyu yang ada di tempat penampungan semuanya adalah jenis penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu hijau ini di Bali diambil dagingnya untuk dibuat sate dan lawar (masakan tradisional Bali).

Penyu-penyu yang ada di penampungan di Tanjung Benoa tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke daerah lain seperti Denpasar, Serangan dan Ketewel Gianyar. Hampir setiap hari selalu ada pengiriman penyu ke luar Benoa. Jumlahnya bervariasi, antara 5 hingga puluhan ekor. Penyu-penyu tersebut biasanya dikirim menggunakan mobil pick up (mobil bak terbuka) yang tertutup terpal. Penyu-penyu tersebut masih dalam keadaan hidup.

Pemotongan penyu ini terlihat sadis, yaitu penyu yang masih hidup dibalik sehingga kerapasnya (tempurungnya) berada di bawah. Selanjutnya masih dalam keadaan hidup, bagian tepi perut penyu tersebut dipotong memutar sampai kulitnya terbuka dan terlihat isi perut penyu tersebut. Selama proses pemotongan ini, penyu tersebut masih terlihat bergerak-gerak kesakitan.

 

nAsib Penyu di Bali

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:48 am

Perdagangan Penyu di Bali Masih Berlangsung

Pada tahun 2001 ini ProFauna Indonesia kembali melakukan investigasi terhadap perdagangan penyu di Bali. Investigasi yang didukung oleh Humane Society International ini dilakukan pada bulan Februri-Mei 2001.

Tanjung Benoa adalah pusat perdagangan penyu di Bali. Di Tanjung Benoa inilah tempat masuknya kapal-kapal penangkap penyu. Walaupun di daerah-daerah lain juga terjadi pemanfaatan penyu, namun Bali yang selama bertahun-tahun secara intensif memanfaatkan penyu, sehingga tak heran jika Bali dianggap sebagai pusat perdagangan penyu. Kebutuhan penyu di Bali yang besar ini telah menyedot para penangkap penyu dari berbagai daerah untuk mengirimkan penyu ke Bali.

Dari investigasi ProFauna Indonesia ini membuktikan bahwa perdagangan penyu di Bali masih berlangsung, walaupun jumlahnya menurun drastis. Menurunnya angka perdagangan penyu ini lebih banyak disebabkan karena saat itu pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan operasi yang membuahkan hasil dengan ditangkapnya Maliani seorang nahkoda kapal penangkap penyu. Akibatnya para pedagang penyu, khususnya yang ada di lokasi penampungan cenderung sangat hati-hati dan tertutup. Perdagangan penyu di Tanjung Benoa tidak terjadi lagi secara terbuka seperti yang terjadi sebelum tahun 2000. Kini tempat-tempat penampungan penyu lebih tertutup dan penjaganya selalu mengawasinya dengan ketat. Turis-turis asing yang dulunya bebas melihat penyu-penyu yang ada di penampungan, sekarang sudah dilarang.

Saat ini di Tanjung Benoa ada enam tempat penampungan penyu, yaitu milik Rastha, Kami, Atri, Mentri, Hasan dan Daang. Sebagian besar lokasi penampungan penyu tersebut berada di tepi laut, kecuali milik Kami dan Rastha yang berada agak jauh dari pantai. Penampungan penyu yang ada di tepi laut dipagari dengan bambu, sedangkan milik Kami dan Rasta berbentuk kolam yang terbuat dari semen.

Perdagangan penyu di Bali telah mendapat perhatian dunia internasional dalam lima belas tahun terakhir ini. Tahun 1990-an, beberapa lembaga internasional seperti Greenpeace mempublikasikan bahwa telah terjadi perdagangan dan pembantaian ribuan penyu per tahun di Bali. Isu boikot pariwisata terhadap Bali pun mencuat sebagai respon dari kepedulian masyarakat internasional terhadap nasib malang penyu-penyu yang bebas diperdagangkan di Bali. Apalagi pemotongan atau lebih tepatnya disebut pembantaian penyu tersebut dipandang sangat kejam dan tidak “manusiawi”.

Kemudian isu boikot pariwisata Bali semakin mereda seiring dengan berjalannya waktu dan munculnya isu yang mengatakan bahwa perdagangan penyu di Bali telah menurun. Namun investigasi ProFauna Indonesia di tahun 1999 membuktikan bahwa perdagangan penyu di Bali masih berlangsung. ProFauna Indonesia mencatat ada sekitar 9000 ekor penyu yang diperdagangkan hanya dalam kurun waktu 4 bulan, yaitu Mei hingga Agustus 2001.

Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup maupun mati adalah dilarang, seperti yang telah dijelaskan dalam Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil adalah dilarang. Indonesia telah merativikasi perjanjian CITES sejak tahun 1978, ini berarti Indonesia terikat terhadap ketentuan CITES ini.

Masalah perdagangan penyu di Bali semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak setelah ProFauna Indonesia mempublikasikan hasil investigasinya tahun 1999.

 

Pembantaian Penyu Hijau di Bangka Selatan

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:46 am

Saat menghampiri dan melihat kondisi sang penyu yang telah kaku dan tertelentang, tim mengira penyu telah mati. Namun perkiraan itu ternyata salah. Penyu tersebut masih bernafas dan sedang berusaha untuk membalikkan badannya dengan kedua lengan renangnya yang nyaris putus. Sebelumnya tim mengira luka tersebut akibat tersangkut jaring nelayan atau alat tangkap lainnya. Namun setelah diperiksa dengan seksama terlihat jelas bahwa luka pada kedua lengan renang penyu tersebut akibat dipotong dengan golok atau benda tajam lainnya. Karena luka bekas potongannya terlihat jelas menganga. Dari kondisi itulah, tim menyimpulkan bahwa semua kejadian itu sengaja dilakukan oleh nelayan setempat dan membiarkan penyu mati secara perlahan-lahan.

Selama Tim melaksanakan program eksplorasi terumbu karang, ada peristiwa menarik dan penting menurut tim untuk dipublikasikan. Peristiwa ini tejadi saat tim eksplorasi melaksanakan kegiatan di Desa Tanjung Labu Pulau Lepar Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ekosistem terumbu karang di Desa Tanjung Labu memanjang sepanjang desa dan terdapat pula ekosistem terumbu karang yang terdapat di seberang perairan yang berjarak hanya sekitar 300 meter dari bibir pantai. Selain itu ditemukan ekosistem padang lamun di bagian barat desa yang didominasi oleh jenis Enhalus acoroides dan Thalassodendron ciliatum. Selain itu, ditemukan banyak makroalga di daerah yang perairannya dangkal diantara ekosistem terumbu karang dan lamun.

Saat perjalanan menyisiri pantai menggunakan kendaraan menuju lokasi pengamatan terumbu karang, tim melihat seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang cukup besar di pinggir pantai yang telah tertelentang dan tak lagi bergerak. Tim memprediksi bahwa penyu tersebut telah mati. Karena waktu surut yang hanya singkat, maka tim memutuskan untuk melakukan pengamatan terumbu karang terlebih dahulu. Setelah selesai kegiatan eksplorasi baru kemudian mengecek kondisi sebenarnya yang terjadi dengan penyu hijau tersebut.

Saat menghampiri dan melihat kondisi sang penyu yang telah kaku dan tertelentang, tim mengira penyu telah mati. Namun perkiraan itu ternyata salah. Penyu tersebut masih bernafas dan sedang berusaha untuk membalikkan badannya dengan kedua lengan renangnya yang nyaris putus. Sebelumnya tim mengira luka tersebut akibat tersangkut jaring nelayan atau alat tangkap lainnya. Namun setelah diperiksa dengan seksama terlihat jelas bahwa luka pada kedua lengan renang penyu tersebut akibat dipotong dengan golok atau benda tajam lainnya. Karena luka bekas potongannya terlihat jelas menganga. Dari kondisi itulah, tim menyimpulkan bahwa semua kejadian itu sengaja dilakukan oleh nelayan setempat dan membiarkan penyu mati secara perlahan-lahan.

Tim eksplorasi terumbu karang pun akhirnya berusaha membalikkan posisi penyu kembali ke keadaan normal dan membiarkannya menuju laut kembali. Namun dengan kondisi luka yang menganga pada kedua lengan renang penyu hijau tersebut, tim tak yakin jika sang penyu mampu bertahan hidup dengan baik. Di sekitar ditemukannya penyu hijau, tergeletak pula penyu hijau lainnya yang tertelentang dan telah mengeras tak bernyawa. Namun ukurannya lebih kecil. Penyu ini nasibnya telah tak terselamatkan lagi.

Setelah peristiwa itu, tim eksplorasi terumbu karang mewawancarai nelayan-nelayan Desa Tanjung Labu untuk mengetahui apa penyebab semua kejadian ini. Hasilnya sangat mengejutkan, penyu tersebut memang sengaja dibunuh oleh nelayan karena dianggap mengganggu sero (alat tangkap ikan jenis perangkap yang memanfaatkan pasang surut air laut) milik nelayan. Terkadang ada sekitar tiga ekor penyu yang menyangkut di sero. Karena dianggap mengganggu dan dapat merusak sero, maka penyu tersebut dibunuh atau dibiarkan mati dengan cara yang telah kami saksikan. Nelayan di Desa Di Tanjung Labu adalah nelayan yang tidak memakan daging penyu, karenanya nelayan tidak pernah sengaja menangkap penyu dan mengambil dagingnya. Penyu-penyu tersebut dibiarkan mati begitu saja.

Pada sepanjangg ekosistem terumbu karang di desa tanjung labu memang terdapat pula ekosistem padang lamun dan hamparan makroalga yang merupakan makanan utama penyu hijau. Disepanjang ekosistem ini pun banyak terdapat sero milik nelayan. Karenanya menjadi hal yang biasa bagi nelayan mendapati penyu yang juga masuk ke dalam sero milik mereka. Bagi para nelayan, daripada terus mengganggu maka lebih baik dibunuh agar tidak lagi mengganggu. Sungguh menyedihkan nasib penyu di perairan ini. Padahal mereka telah lebih dulu dan lebih lama hidup disekitar perairan ini. Namun, karena keegoisan manusia, maka hewan ini lah yang menjadi korban.

Tapi berdasar hasil wawancara, tak semua pemilik sero yang melakukan hal sekeji itu terhadap penyu. Ada beberapa nelayan yang dengan sabar membiarkan penyu keluar kembali dari sero karena memang penyu tersebut sebenarnya tak membuat sero mereka menjadi rusak