L♥Ve'a

giVe oTherS iN oUr LifE

Pantaii…. April 22, 2010

Filed under: Pantai — loveabi @ 8:57 am

Pantai adalah sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir, dan terdapat di daerah pesisir laut.

Daerah pantai menjadi batas antara daratan dan perairan laut. Panjang garis pantai ini diukur mengeliling seluruh pantai yang merupakan daerah teritorial suatu negara.

Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sebesar 81.000 km.

Kawasan pantai adalah kawasan transisi dari lahan daratan dan perairan laut. Proses pembentukan kawasan pantai sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya dinamis yang berada di sekitarnya. Gaya-gaya dinamis utama dan dominan yang mempengaruhi kawasan pantai adalah gaya gelombang. Menurut Bambang Triatmodjo (1999), pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian rupa sehingga mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alami pantai terhadap laut.

ps17-08-nearshore-current.jpg

Gelombang dan arus di sekitar kawasan pantai

Seperti kita ketahui, gelombang laut yang sehari-hari mempengaruhi kawasan pantai adalah gelombang yang diakibatkan oleh energi angin. Sesuai dengan faktor pembangkit terjadinya gelombang tersebut, maka ada dua jenis gelombang angin yaitu gelombang normal dan gelombang badai (storm wave).

Pembangkitan gelombang laut oleh angin atau badai

Karena itulah, ada dua tipe tanggapan pantai dinamis terhadap gelombang, yaitu tanggapan terhadap kondisi gelombang normal dan gelombang badai. Bambang Triatmodjo (1999) menjelaskan bahwa kondisi gelombang normal terjadi dalam waktu yang lama dan energi gelombang mudah dipatahkan oleh mekanisme pertahanan alami pantai. Sedangkan akibat gelombang badai yang mempunyai energi lebih besar, sering mengakibatkan pertahanan alami pantai tak mampu menahannya. Sehingga pantai dengan mudah dapat tererosi.

Adakalanya profil pantai lambat laun akan kembali ke bentuk semula, setelah gelombang badai mereda. Namun ada kalanya pantai yang tererosi tersebut tak kembali ke bentuk semula karena material pembentuk pantai telah terbawa arus ke tempat lain dan tak kembali ke lokasi semula.

 

Manfaat Pantai

Filed under: Pantai — loveabi @ 8:50 am

Bagi kehidupan, terutama di daerah tropis pantai dapat dimanfaatkan sebagai :

  1. Areal tambak garam
  2. Daerah pertanian pasang surut
  3. Wilayah perkebunan kelapa dan pisang
  4. Objek pariwisata
  5. Daerah pengembangan industri kerajinan rakyat bercorak khas daerah pantai, dan lain-lain.
 

Upaya Mengatasi Kerusakan Pantai April 19, 2010

Filed under: Pantai — loveabi @ 10:46 am


Berdasarkan data yang diperoleh dari media cetak dan media elektronik maupun pengamatan visual tentang keadaan pantai yang berada di kepulauan Indonesia, sebagian besar telah mengalami kerusakan yang sangat parah. Penyebab kerusakan pantai lebih banyak karena ulah manusia seperti perusakah karang pantai, penebangan bakau, penambangan pasir, serta bangunan yang melewati garis pantai.

Selain itu penggalian karang menyebabkan pertambahan kedalaman perairan dangkal yang semula berfungsi meredam energi gelombang, akibatnya gelombang sampai ke pantai dengan energi yang cukup besar.

Kegiatan pembangunan, industri dan aktivitas manusia serta pengaruh faktor alam pada umumnya telah memberikan pengaruh negatif pada kestabilan kawasan pantai. Faktor alam yang berpengaruh tehadap kondisi pantai antara lain timbulnya gelombang dan arus, terjadinya pasang surut, terjadinya sedimentasi dan abrasi yang berpengaruh pada berubahnya garis pantai serta kondisi sungai yang bermuara di perairan tersebut.

Aktivitas manusia yang berpengaruh terhadap kondisi pantai antara lain adalah pem-bangunan, reklamasi dan pengerukan dasar perairan untuk tujuan komersial yang berlebihan. Berkembangnya wisata bahari di beberapa daerah pantai juga mendorong terjadinya perubahan kondisi alam menjadi lingkungan buatan dengan dibangunnya beberapa fasilitas penunjang yang diperlukan.

Saat ini beberapa kawasan pantai di Indonesia telah mengalami kerusakan. Pengamatan di beberapa stasiun penelitian di Jawa menunjukan adanya kenaikan muka air laut dan mengakibatkan berkurangnya kawasan pantai. Gelombang laut yang datang ke pantai dengan energi yang cukup besar serta erosi dapat menambah kerusakan kawasan pantai.

Tingkat kerusakan akan relatif rendah apabila perlindungan alam/pantai tetap terjaga. Banyaknya kawasan pantai yang dihuni maka apabila terjadi kerusakan akan memberikan kerugian yang cukup besar. Usaha mengatasi kerusakan fisik dalam skala bangunan maupun lingkungan sudah banyak dilakukan.

Abrasi

Pantai mundur merupakan akibat proses erosi pantai (abrasi) sehingga garis pantai menjadi mundur jauh dari garis pantai lama. Garis pantai secara alami berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam seperti adanya aktivitas gelombang, angin, pasang surut dan arus serta sedimentasi daerah delta sungai.

Namun perubahan garis pantai dapat meningkat dengan adanya gangguan ekosistim pantai seperti hutan bakau sebagai penyangga pantai banyak dirubah fungsinya untuk dijadikan sebagai daerah pertambakan, hunian, industri dan daerah reklamasi kemudian pembuatan tanggul dan kanal serta bangunan-bangunan yang ada di sekitar pantai.

Erosi pantai adalah proses mundumya garis pantai dari kedudukan garis pantai semu-la. Hal ini disebabkan daya tahan material dilampaui oleh kekuatan yang ditimbulkan oleh pengaruh arus dan gelombang, tidak adanya keseimbangan antara lain suplai sedimen yang datang ke bagian pantai yang ditinjau dan kapasitas angkutan sedimen di bagian pantai tersebut.

Kondisi tersebut di atas perlu ditangani bersama antara instansi-instansi terkait guna mencegah erosi yang berkelanjutan dan jika mungkin “mengembalikan” (mere-habilitasi/merestorasi) fungsi pantai sebagai kawasan umum, wisata, dan prasarana social-religius masyarakat.

Dalam hal ini pemerintah memiliki peranan sangat besar yakni dalam usaha mem-bangun pengaman pantai. Pengaman pantai bertujuan untuk mencegah erosi pantai dan penggenangan daerah pantai akibat limpasan gelombang (overtopping).

Penanggulangan Pantai Yang Terabrasi

Upaya manusia dalam penanggulangan pantai yang rusak ada beberapa metode disesu’ikan dengan karakter dan sifat gelombang yang menerjang pantai, metode penanggulangan abrasi pantai seperti pemecah gelombang sejajar garis pantai (detached beakwater), struktur pemo-tong arus-sejajar-pantai tegak lurus garis pantai (groin), dan pembangunan dinding laut (seawall) telah banyak diapli-kasikan dalam berbagai kasus erosi pantai di Indonesia.

Selama mampu meme-nuhi syarat-syarat stabilitas rencana, maka ketiga macam struktur di atas terbukti cu-kup efektif menanggulangi abrasi. Namun demikian, ke-tiga cara yang tergolong ‘hard engineering” tersebut memi-liki kelemahan dari segi ke-indahan pandangan. Pantai akan kelihatan kaku dan ku-rang alami dan bahkan mung-kin tampak “kotor” dengan adanya struktur tersebut.

Sebuah altematif penang-gulangan yang fungsional dan tidak mengandung kelemahan ketiga cara di atas serta belum diterapkan di beberapa negara Eropa, Amerika, dan Jepang, adalah penanggulangan/pen-cegahan terjadinya abrasi menggunakan Break Water mumi berbentuk susunan ku-bus dengan ukuran tertentu berdasarkan survey peren-canaan yang sating mengait satu dengan yang lainnya.

Idea ini telah diujicobakan pada pantai di Pulau Tolop dan berhasil dengan baik sejak tahun 2003 yang lalu. Pada pelaksanaannya breakwater bentuk kubus ini sangat efektif meredam energi gelombang yang datang, bahkan bentuk

ini membawa manfaat dengan terjadinya sedimentasi sebe-lah dalam breakwater.

Sedimen ini terjadi karena material bawaan air laut yang telah diredam oleh breakwater mengendap tidak sempat kembali kelaut bersama air laut.

Breakwater Bentuk Kubus

Untuk melindungi daerah pantai dari serangan gelom-bang, suatu pantai memer-lukan bangunan peredam ge-lombang. Peredam gelombang adalah suatu bangunan yang bertujuan untuk mereduksi atau menghancurkan energi gelombang.

Gelombang yang menjalar mengenai suatu bangunan peredam gelombang sebagian energinya akan dipantulkan (refleksi), sebagian diteruskan (transmisi) dan sebagian dihancurkan (dissipasi) mela-lui pecahnya gelombang, ke-kentalan fluida, gesekan dasar dan lain-lainnya. Pembagian besamya energi gelombang yang dipantulkan, dihancur-kan dan diteruskan ter-gantung karakteristik gelom-bang datang (periode, tinggi, kedalaman air), tipe bangunan peredam gelombang (permu-kaan halus dan kasar,

Peredam gelombang ben-tuk kubus adalah merupakan peredam gelombang yang mempunyai permukaan lebih kecil/sempit dikarenakan cara pernasangannya disesuaikan dengan sifat dan arah datang-nya gelombang, sehingga menyebabkan gelombang akan kehilangan energi lebih besar karena gesekan dengan permukaan peredam gelombang datar (kubus).

Breakwater berbentuk kubus sangat efektif untuk meredam energi gelombang, dengan cara pemasangan sudut menghadap arah da-tangnya gelombang. Gelombang akan dipecah oleh sudut kubus sehingga energi yang dibawa oleh gelombang berkurang, seterusnya energi yang sudah tereduksi diterima kembali oleh kubus dibelakangnya, demikian seterusnya sampai gelombang laut benar-benar berkurang energinya.

Cara pemasangan break-water berdasarkan survey yang dilakukan untuk mengetahui sifat dari gelombang antara lain yang harus diperhatikan adalah arah datangnya gelombang, tinggi gelombang dan contour tanah sebagai fondasi untuk pemasangan kubus. Setelah mengetahui sifat dan gelombang maka dapat ditentukan dimensi kubus, demikian juga setelah mengetahui contour tanah maka diketahui bagaimana cara membuat leveling sebagai fondasi kubus.

Pada tahap pemasangan yang harus diperhitungkan adalah jadwal pasang surut laut, hal ini akan mempe-ngaruhi kerja pemasangan ku-bus yang memerlukan keteli-tian agar kubus dapat terpa-sang saling mengait dan dapat duduk tepat pada posisinya, Apabila pemasangan selesai maka akan tertihat keindahan dan kerapihan, bahkan apabila telah terjadi sedimen yang cukup maka kubus-kubus tersebut dapat dipindahkan ketempat lain yang memerlukan.

Ada beberapa keuntungan penggunaan breakwater model kubus,

1. Pembuatannya sangat mudah,

2. Waktu pembuatannya cepat,

3. Bila penggunaan dianggap cukup, kubus dapat dipindah ketempat lain,

4. Punya nilai estetika yang baik.

Dengan demikian penggunaan breakwater model kubus sangat tepat pada pantai yang mengalami abrasi karena kerusakan antara lain hutan bakau ditebang untuk penggunaan lain, karang digunakan sebagai bahan bangunan, kerusakan kawasan pantai karena polusi berupa tumpahan minyak serta limbah lainnya yang dihasilkan ulah manusia ©

 

PENGARUH ABRASI DI PANTAI GROGOL KECAMATAN CIREBON UTARA KABUPATEN CIREBON DAN PANTAI BOJONGSALAWE KECAMATAN PARIGI KABUPATEN CIAMIS TERHADAP KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUT

Filed under: Pantai — loveabi @ 10:44 am

Potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang terdapat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat besar seharusnya mampu memberikan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun ketimpangan cara pandang antara wilayah daratan dan wilayah pesisir membuat fokus pembangunan lebih dikonsentrasikan pada wilayah darat, sehingga potensi wilayah pesisir dan laut tidak diwujudkan dan didayagunakan secara optimal serta permasalahan-permasalahan di wilayah pesisir seperti abrasi, sedimentasi, dan erosi tidak tertangani dengan tuntas. Hal ini tercermin dalam berbagai kebijakan pembangunan kelautan di Indonesia.

Abrasi merupakan salah satu jenis permasalahan di wilayah pesisir. Abrasi adalah proses perubahan fisik pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus laut. Abrasi yang terjadi di Pantai Grogol Kabupaten Cirebon dipengaruhi oleh faktor oceanografi Laut Jawa, sedangkan abrasi yang terjadi Pantai Bojongsalawe Kabupaten Ciamis dipengaruhi oleh faktor oceanografi Samudera Hindia. Abrasi yang terjadi di kedua tempat ini telah berpengaruh pada komponen-komponen sistem pembangunan wilayah pesisir dan laut, yaitu ekonomi, sosial, budaya, dan hukum; kewilayahan; ekosistem; pengelolan Daerah Aliran Sungai (DAS); dan oceanografi dan estuari.

Pantai Grogol yang terletak di Pantai Utara Jawa Barat dan Pantai Bojongsalawe yang terletak di Pantai Selatan Jawa Barat, memiliki karakteristik fisik pantai dan karakteristik masyarakat yang berbeda, sehingga pengaruh abrasi yang terjadi di dua wilayah studi ini pun akan berbeda. Abrasi di Pantai Grogol telah mengikis secara berlahan tapi pasti tambak-tambak penduduk dan telah memberikan kerugian materi yang tidak sedikit. Abrasi juga berdampak pada meningkatnya jumlah peminat pekerja ke luar negeri, padahal dilihat dari sumber daya manusianya masyarakat Desa Grogol masih rendah. Sedangkan abrasi di Pantai Bojongsalawe berdampak pada hilangnya lapangan pacuan kuda yang pada awalnya menjadi kegiatan yang menonjol di desa ini. Abrasi juga mengancam TPI Bojongsalawe yang letaknya tinggal beberapa meter saja dari bibir pantai. Hilangnya mata pencaharian berpengaruh pada pendapatan, rendahnya pendidikan masyarakat membuat pilihan pekerjaan semakin sempit.

Tujuan Penelitian ini adalah melakukan telaah perbandingan terhadap pengaruh abrasi di Pantai Grogol dan Pantai Bojongsalawe dalam perspektif sistem pembangunan wilayah pesisir dan laut, dan merumuskan suatu usulan kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Ciamis untuk meminimalisasi terjadinya abrasi di Pantai Grogol dan Pantai Bojongsalawe, sehingga pemanfaatan wilayah pesisir dan laut dapat dilakukan dengan optimal untuk mencapai tiga tujuan inti pembangunan. Dengan pendekatan yang dilakukan yaitu mengidentifikasi pengaruh abrasi terhadap komponen-komponen pembangunan wilayah pesisir di kedua wilayah studi, menjelaskan korelasi antara kebijakan kelautan nasional, kebijakan kelautan Provinsi Jawa Barat, kebijakan kelautan Kabupaten Cirebon, dan kebijakan kelautan Kabupaten Ciamis. Kemudian dengan menggunakan analisis SWOT dibuat strategi yang menjadi prioritas kebijakan penanganan abrasi di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Ciamis.

Adapun prioritas kebijakan penanganan abrasi, yang diperoleh dari analisis SWOT yaitu:

1. Menyusun Masterplan Penanganan Abrasi di Pantai Grogol dan Pantai Bojongsalawe yang berorientasi pada komponen-komponen sistem pembangunan wilayah pesisir dan laut.

2. Menyusun Draft Pengelolaan DAS Cisanggarung dan DAS Citanduy yang memperhatikan keterpaduan pemanfaatan hulu dan hilir sungai.

3. Melengkapi ketersediaan infrastruktur data spasial yang akan mempermudah penanganan kerusakan wilayah pesisir.

4. Meningkatkan koordinasi antar instansi yang terkait dalam pembangunan wilayah pesisir dan laut di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Ciamis.

5. Membentuk suatu management corporate yang berfungsi menyatukan berbagai kepentingan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

6. Menyediakan produk peraturan daerah untuk menyadarkan masyarakat sekitar wilayah yang terkena abrasi agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat memperbesar masalah yang telah ada.

7. Memberikan penyuluhan serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

8. Membuat bangunan pengaman pantai yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan oceanografi Pantai Grogol dan Pantai Bojongsalawe.

9. Penanaman mangrove yang melibatkan kelompok-kelompok masyarakat dalam proses tanam dan pemeliharaannya.

10. Mendorong diversifikasi usaha bagi nelayan dan petani pada saat masa paceklik dan hilangnya mata pencaharian akibat abrasi melalui pelatihan-pelatihan pada kelompok-kelompok yang telah ada.

Dikarenakan karakteristik wilayah studi yang berbeda, maka prioritas kebijakan secara fisik dan kemasyarakatannya pun berbeda. Dimana untuk Pantai Grogol yang merupakan pantai berlumpur, penanganan secara fisik lebih ditekankan pada penyediaan tumbuhan pantai, sedangkan Pantai Bojongsalawe yang merupakan pantai berpasir, penanganannya ditekankan pada rehabilitasi bangunan pelindung pantai. Perbedaan karakteristik masyarakat membuat peran pemerintah daerah masih sangat besar untuk memberikan penyuluhan atau pelatihan kepada masyarakat agar masyarakat Desa Grogol lebih bersifat aktif. Sedangkan untuk Desa Karangjaladri, pemerintah daerah dapat memberdayakan masyarakat dengan mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan penanganan abrasi.

 

Abrasi

Filed under: Pantai — loveabi @ 10:41 am

Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove.

roses Terjadinya Abrasi

Abrasi dapat terjadi karena:

  1. Faktor Alam, dan
  2. Faktor manusia.

Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan oleh angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai. Gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan.

Gambar Proses Terjadinya Abrasi di Pantai

Gambar di atas menunjukkan skema arah gelombang laut yang mengikis pantai. Abrasi terjadi ketika angin yang bergerak di laut menimbulkan gelombang dan arus menuju pantai. Arus dan angin tersebut lama kelamaan menggerus pinggir pantai. Gelombang di sepanjang pantai menggetarkan tanah seperti gempa kecil. Kekuatan gelombang terbesar terjadi pada waktu terjadi badai sehingga dapat mempercepat terjadinya proses abrasi. Contoh abrasi karena faktor alam, misalnya adalah Pura Tanah Lot di pulau Bali yang terus terkikis

Selain faktor alam, abrasi juga disebabkan oleh faktor manusia, misalnya penambangan pasir. Penambangan pasir sangat berperan banyak terhadap abrasi pantai, baik di daerah tempat penambangan pasir maupun di daerah sekitarnya karena terkurasnya pasir laut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan arah arus laut yang menghantam pantai.

Dampak Abrasi

Dampak negatif yang diakibatkan oleh abrasi antara lain:

  1. Penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai
  2. Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang begitu besar.
  3. Kehilangan tempat berkumpulnya ikan ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau

Usaha Pencegahan Abrasi

Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abrasi, diantaranya yaitu:

  1. Penanaman kembali hutan bakau
  2. Pelarangan penggalian pasir pantai
  3. Pembuatan pemecah gelombang
  4. Pelestarian terumbu karang
  5. Yaitu melalui rehabilitasi lingkungan pesisir yang hutan bakaunya sudah punah, baik akibat dari abrasi itu sendiri maupun dari pembukaan lahan tambak.

    6.Perlu peraturan baik tingkat pemerintah daerah maupun pusat yang mengatur pelarangan pasir pantai secara besar besaran yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.

  6. Pemecah gelombang perlu dibuat di pesisir-pesisir karena dapat mengurangi kekuatan gelombang yang menerjang pantai. Gambar Pemecah Gelombang

  7. Terumbu karang juga dapat berfungsi mengurangi kekuatan gelombang yang sampai ke pantai. Oleh karena itu perlu pelestarian terumbu karang dengan membuat peraturan untuk melindungi habitatnya.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.