L♥Ve'a

giVe oTherS iN oUr LifE

Pembantaian Penyu Hijau di Bangka Selatan April 19, 2010

Filed under: Penyu — loveabi @ 9:46 am

Saat menghampiri dan melihat kondisi sang penyu yang telah kaku dan tertelentang, tim mengira penyu telah mati. Namun perkiraan itu ternyata salah. Penyu tersebut masih bernafas dan sedang berusaha untuk membalikkan badannya dengan kedua lengan renangnya yang nyaris putus. Sebelumnya tim mengira luka tersebut akibat tersangkut jaring nelayan atau alat tangkap lainnya. Namun setelah diperiksa dengan seksama terlihat jelas bahwa luka pada kedua lengan renang penyu tersebut akibat dipotong dengan golok atau benda tajam lainnya. Karena luka bekas potongannya terlihat jelas menganga. Dari kondisi itulah, tim menyimpulkan bahwa semua kejadian itu sengaja dilakukan oleh nelayan setempat dan membiarkan penyu mati secara perlahan-lahan.

Selama Tim melaksanakan program eksplorasi terumbu karang, ada peristiwa menarik dan penting menurut tim untuk dipublikasikan. Peristiwa ini tejadi saat tim eksplorasi melaksanakan kegiatan di Desa Tanjung Labu Pulau Lepar Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ekosistem terumbu karang di Desa Tanjung Labu memanjang sepanjang desa dan terdapat pula ekosistem terumbu karang yang terdapat di seberang perairan yang berjarak hanya sekitar 300 meter dari bibir pantai. Selain itu ditemukan ekosistem padang lamun di bagian barat desa yang didominasi oleh jenis Enhalus acoroides dan Thalassodendron ciliatum. Selain itu, ditemukan banyak makroalga di daerah yang perairannya dangkal diantara ekosistem terumbu karang dan lamun.

Saat perjalanan menyisiri pantai menggunakan kendaraan menuju lokasi pengamatan terumbu karang, tim melihat seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang cukup besar di pinggir pantai yang telah tertelentang dan tak lagi bergerak. Tim memprediksi bahwa penyu tersebut telah mati. Karena waktu surut yang hanya singkat, maka tim memutuskan untuk melakukan pengamatan terumbu karang terlebih dahulu. Setelah selesai kegiatan eksplorasi baru kemudian mengecek kondisi sebenarnya yang terjadi dengan penyu hijau tersebut.

Saat menghampiri dan melihat kondisi sang penyu yang telah kaku dan tertelentang, tim mengira penyu telah mati. Namun perkiraan itu ternyata salah. Penyu tersebut masih bernafas dan sedang berusaha untuk membalikkan badannya dengan kedua lengan renangnya yang nyaris putus. Sebelumnya tim mengira luka tersebut akibat tersangkut jaring nelayan atau alat tangkap lainnya. Namun setelah diperiksa dengan seksama terlihat jelas bahwa luka pada kedua lengan renang penyu tersebut akibat dipotong dengan golok atau benda tajam lainnya. Karena luka bekas potongannya terlihat jelas menganga. Dari kondisi itulah, tim menyimpulkan bahwa semua kejadian itu sengaja dilakukan oleh nelayan setempat dan membiarkan penyu mati secara perlahan-lahan.

Tim eksplorasi terumbu karang pun akhirnya berusaha membalikkan posisi penyu kembali ke keadaan normal dan membiarkannya menuju laut kembali. Namun dengan kondisi luka yang menganga pada kedua lengan renang penyu hijau tersebut, tim tak yakin jika sang penyu mampu bertahan hidup dengan baik. Di sekitar ditemukannya penyu hijau, tergeletak pula penyu hijau lainnya yang tertelentang dan telah mengeras tak bernyawa. Namun ukurannya lebih kecil. Penyu ini nasibnya telah tak terselamatkan lagi.

Setelah peristiwa itu, tim eksplorasi terumbu karang mewawancarai nelayan-nelayan Desa Tanjung Labu untuk mengetahui apa penyebab semua kejadian ini. Hasilnya sangat mengejutkan, penyu tersebut memang sengaja dibunuh oleh nelayan karena dianggap mengganggu sero (alat tangkap ikan jenis perangkap yang memanfaatkan pasang surut air laut) milik nelayan. Terkadang ada sekitar tiga ekor penyu yang menyangkut di sero. Karena dianggap mengganggu dan dapat merusak sero, maka penyu tersebut dibunuh atau dibiarkan mati dengan cara yang telah kami saksikan. Nelayan di Desa Di Tanjung Labu adalah nelayan yang tidak memakan daging penyu, karenanya nelayan tidak pernah sengaja menangkap penyu dan mengambil dagingnya. Penyu-penyu tersebut dibiarkan mati begitu saja.

Pada sepanjangg ekosistem terumbu karang di desa tanjung labu memang terdapat pula ekosistem padang lamun dan hamparan makroalga yang merupakan makanan utama penyu hijau. Disepanjang ekosistem ini pun banyak terdapat sero milik nelayan. Karenanya menjadi hal yang biasa bagi nelayan mendapati penyu yang juga masuk ke dalam sero milik mereka. Bagi para nelayan, daripada terus mengganggu maka lebih baik dibunuh agar tidak lagi mengganggu. Sungguh menyedihkan nasib penyu di perairan ini. Padahal mereka telah lebih dulu dan lebih lama hidup disekitar perairan ini. Namun, karena keegoisan manusia, maka hewan ini lah yang menjadi korban.

Tapi berdasar hasil wawancara, tak semua pemilik sero yang melakukan hal sekeji itu terhadap penyu. Ada beberapa nelayan yang dengan sabar membiarkan penyu keluar kembali dari sero karena memang penyu tersebut sebenarnya tak membuat sero mereka menjadi rusak

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s