L♥Ve'a

giVe oTherS iN oUr LifE

CoraL bLEaching iN Bali April 19, 2010

Filed under: tErumbu kArang — loveabi @ 9:23 am

Dampak pemanasan global semakin nyata. Periode April-Juni yang setiap tahunnya cenderung lebih panas dibanding bulan-bulan lainnya, telah mengakibatkan terjadinya kembali pemutihan karang di Bali. Sebagai respon atas perisitiwa tersebut, yayasan bekerjasama dengan kelompok nelayan lokal, dive operator/center-resort mengadakan serangkaian pemantauan. “Terumbu karang di Bali mengalami pemutihan, diperlukan upaya bersama segera dengan berbagai pihak untuk mengelola dampaknya,”  demikian himbauan Naneng Setiasih, pimpinan yayasan Reef Check Indonesia.

Setelah mendapat laporan dari nelayan di daerah Tejakula, yayasan bersama para partner melakukan penelitian cepat (rapid assessment) di area antara Pemuteran dan Amed (sekitar 120 km panjang garis pantai). Dari penelitian cepat tersebut, ditemukan bahwa pemutihan karang keras paling parah di Amed.  Pemutihan ini mencakup sekitar 40% dari jumlah tutupan karang keras yang ada.  Sementara tingkat pemutihan paling rendah ditemukan di Tulamben: sekitar 10% dari total tutupan karang keras.  Adapun jenis-jenis karang keras yang ditemukan memutih adalah: Acropora Tabulate and branching, Pocillopora sp,  Stylopora, Montipora (submasive and encrusting), Porites, Pavona, Hydnopora, Favites, Galaxea, Fungiid (Fungia,Ctenactis and Sandhalolita), Astreopora, Symphillia, Platygyra, Diploastrea,  Heliopora, Lobophylia, Millepora, Goniastrea, dan Pectinia. Sementara jenis non kanrang keras yang terkena adalah karan lunak (Sarchophyton dan Sinularia), Anemon, dan zooanthid.

Jenis-jenis karang keras yang rentan terhadap pemutihan, seperti Seriotopora, Poccilopora, Stylophora, Pavona mengalami pemutihan yang parah, sementara jenis-jenis yang lebih kuat (resistan) mengalami pemutihan sebagian atau tidak memutih, seperti Porites.

Adapun suhu air laut pada saat penyelaman: 29-30oC.

Pemutihan karang terakhir yang tercatat di Bali terjadi pada tahun 2005, si terumbu karang sisi kiri dan kanan bandara Ngurah Rai.  Saat itu ditemukan sampai 75% karang keras memutih (semua karang Montipora “plate” memutih).  Pemantauan setahun kemudian menemukan hilangnya karang lunak.

Pemutihan terbesar di Bali terjadi pada tahun 1997-1998, bersamaan dengan pemutihan masal global.  Di Indonesia saat itu pemutihan karang yang mencapai sekitar 50% atau lebih dari tutupan karang tercatat terjadi di Taman Nasional Bali Barat (mencapai hingga 100%), Karimun Jawa, Taman Nasional Pulau Seribu, Kepulauan Gili, Lombok (mencapai hingga 90%) dan Kalimatan Timur.  Tingkat kematian dari karang yang terkena pemutihan tersebut di Karimun Jawa mencapai 50-60% (irdez et all, 1998).

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang ini akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia.  Kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya  US$2,5-6 milyar dalam 19 tahun (WWF, 2004). Di Asia Tenggara sendiri, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun kedepan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai US$ 38,3 miliar (Cesar et all, 2003).

PENANGANAN MENDESAK

Dengan kecendrungan suhu bumi yang terus menaik karena pemanasan global, kejadian pemutihan terumbu karang skala luas diperkirakan akan terjadi semakin sering dengan intensitas yang meningkat. Apabila kenaikan suhu ini dibandingkan dengan batas toleransi karang terhadap pemutihan dalam 100 tahun terakhir, maka pada tahun 2020, diprediksikan bahwa pemutihan terumbu karang akan terjadi setiap tahun (Hoegh-Guldberg, 1999).

Di Bali, terumbu karang merupakan aset ekonomi yang sangat vital dari sisii perikanan dan atraksi wisata.   Sebuah penelitian di Taman Nasional Bali Barat menunjukan penurunan keinginan membayar dari setiap  wisawatan sebesar Rp. 16,290.00   untuk setiap kehilangan  10 % tutupan mahluk hidup.  Hal ini berarti secara hipotesis, penurunan tutupan mahluk hidup dari tahun 1996 ke 1998 karena pemutihan karang dan hama Acanthaster mengakibatkan kerugaian sebesar Rp. 692,092,200.00 (Setiasih, 2000).  Berkurangnya tutupan karang keras diatas 10% juga dapat mengurangi kelimpahan jenis ikan sampai 62% (Wilson dkk, 2006).

“Pemanasan global tidak bisa kita hindari, namun kita dapat bersama-sama melakukan sesuatu untuk mengurangi dampaknya pada alam dan manusia,”  ungkap Naneng lebih lanjut.

Hal pertama yang perlu dilakukan di tingkat lokal adalah dengan menjaga terumbu karang sebaik-baiknya dengan mengurangi tekanan-tekanan yang lain.  Terumbu karang yang mengalami tekanan yang rendah, akan mempunyai energi lebih dalam menghadapi pemutihan karang.   Peran serta masyarakat luas sangat diperlukan di sini.  Mulai dari pengaturan pengelolaan perikanan, sampai keterlibatan dunia pariwisata dalam menjaga kawasan terumbu karang. Pengelolaan terumbu karang juga harus memperhatikan zonasi, untuk memastikan adanya daerah sumber “induk-induk” karang, yang akan mensuply daerah-daerah yang mengalami kematian dan kerusakan yang parah.  Intervensi-intervensi teknis juga dapat dipertimbangkan untuk membantu mempercepat pemulihan habitat karang yang rusak.

Telah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat, seperti melalui pembentukan-pembentukan daerah lingkungan laut secara partisipatif.  Bali juga mempunyai banyak pelaku pariwisata yang ramah lingkungan dan secara rutin melakukan aktifitas konservasi untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang, misalnya saja pengangkatan bintang berduri (pemangsa karang), membuat dan mempergunakan pelampung (tidak buang jangkar), serta aktifitas clean up rutin.

Yang masih dirasakan kurang adalah upaya untuk menjalin upaya-upaya tersebut di dalam jejaring yang aktif dan berkesinambungan.  Juga upaya penelitian yang melibatkan daya adaptasi (resistance) dan daya lenting (resilience) terumbu karang dalam membangun pengelolaan suatu kawasan terumbu karang.

Dalam waktu dekat ini yang bersama bisa kita lakukan adalah:

  1. Awasi daerah-daerah lindungan dengan sebaik-baiknya untuk mengurangi pelanggaran-pelanggaran.
  2. Tidak menangkap ikan dengan cara yang merusak (bom dan racun)
  3. Sebisa mungkin, kurangi konsumsi ikan-ikan herbivor (karang mati yang ditumbuhi alga, perlu “dibersihkan” oleh ikan-ikan tersebut agar dapat tumbuh karang baru).  Juga kurangi memberi makan ikan-ikan herbivor di area-area yang terkena pemutihan.
  4. Dalam melakukan penyelaman, pastikan setiap penyelam mempunyai kemampuan selam yang baik, kurangi kontak dengan terumbu karang.
  5. Bantu kami dalam memantau perkembangan bleaching dengan mengisi form pemantauan pemutihan karang.  Form dapat diminta melalui: jensi@reefcheck.org atau jensi@reefcheck.or.id

Pihak pemerintah (DKP propinsi Bali) akan membantu konsolidasi dan sosialisasi permasalahan ini.  Hal ini akan dilakukan melalui media, dan kelompok-kelompok masyarakat pengawas.  DKP propinsi juga akan mendukung upaya penelitian serta pemulihan (recovery) terumbu karang melalui program pemerintah.

Selain itu, pihak Gahawisri akan secara aktif mensosialisasikan isu pemanasan global ini kepada jaringannya, untuk membantu mengurangi tekanan langsung terhadap terumbu karang dengan lebih mengaktfikan wisata ramah lingkungan, dan pelibatan industri wisata untuk mengambil data pemutihan karang.

Pihak LSM dan universitas di Bali, diharapkan melalui konsorsium Mitra Bahari, akan membangun kerja sama dalam membentuk tim peneliti.  Diharapkan dari penelitian ini akan didapatkan informasi yang lebih detail tentang bagaimana mengelola terumbu karang di bawah ancaman pemanasan global.  Sejauh ini, sudah didapatkan komitmen dari WCS (World Conservation Society)  dan YBN (Yayasan Bahtera Nusantara).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s